Tuesday, May 9, 2017

My Sex Story

Halo semua pengunjung komposisiseks, terima kasih masih setia bersama sange-sangean disini. Shinta pernah janji bakalan update cerita tentang Shinta, nah ini dia cerita awal Shinta mengenal gituan hiks hiks, kenangan teridah Shita sejauh ini. Selamat menikmati kalian semua dan jangan lupa sediakan apa yang perlu untuk ngecrot karena cerita ini bakalan buat kalian semua berfantasi setiggi-tingginya dan sange-se sange-sangenya.


Wanita itu berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima. Sang petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu. Tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang agak di pojok.
Petugas satpam itu memperhatikan sekian lama, ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu. Karena dua kali waiters mendatanginya tapi, wanita itu hanya menggelengkan kepala. Mejanya masih kosong, tak ada yang dipesan. Lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri. Adakah seseorang yang sedang ditunggunya.
Petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini, terlihat dari jilbabnya yang lebar dan baju panjang yang ia kenakan. Usianya nampak belum terlalu dewasa. Tapi tak bisa dibilang anak-anak juga. Sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa.
Setelah sekian lama, akhirnya memaksa petugas satpam itu untuk mendekati meja wanita itu dan bertanya, ”Maaf, nona… Apakah anda sedang menunggu seseorang?”
”Tidak!” jawab wanita itu sambil mengalihkan wajahnya ke tempat lain.
”Lantas untuk apa anda duduk di sini?”
”Apakah tidak boleh?” Wanita itu mulai memandang ke arah sang petugas satpam.
”Maaf, Nona. Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukkan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami.”
”Maksud, bapak?”
”Anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini.”
”Nanti saya akan pesan setelah saya ada uang. Tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual,“ kata wanita itu dengan suara lambat.
”Jual? Apakah anda menjual sesuatu di sini?”
Petugas satpam itu memperhatikan wanita itu. Tak nampak ada barang yang akan dijual. Mungkin wanita ini adalah pramuniaga yang hanya membawa brosur.
”Ok, lah. Apapun yang akan anda jual, ini bukanlah tempat untuk berjualan. Mohon mengerti.”
”Saya ingin menjual diri saya!” kata wanita itu dengan tegas sambil menatap dalam-dalam ke arah si petugas satpam.
Petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan. ”Mari ikut saya,” katanya kemudian sambil memberikan isyarat dengan tangannya.
Wanita itu menangkap sesuatu tindakan kooperatif karena ada secuil senyum di wajah si petugas satpam. Tanpa ragu dia melangkah mengikuti laki-laki itu.
Di koridor hotel terdapat kursi yang hanya untuk satu orang. Di sebelahnya ada telepon antar ruangan yang tersedia khusus bagi pengunjung yang ingin menghubungi penghuni kamar di hotel ini. Di tempat inilah deal berlangsung.

”Apakah anda serius?” tanya petugas satpam.
”Saya serius!” jawab wanita itu tegas.
”Berapa tarif yang anda minta?”
”Setinggi-tingginya...”
”Mengapa?” Petugas satpam itu terkejut sambil menatap wajah si wanita.
”Saya masih perawan!” kata wanita itu, mengagetkan.
”Perawan?” sekarang petugas satpam itu benar-benar terperanjat. Tapi wajahnya berseri. Peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini, pikirnya.
”Bagaimana saya tahu anda masih perawan?”
”Gampang sekali. Semua pria dewasa tahu membedakan mana perawan dan mana bukan... iya kan?”
”Kalau tidak terbukti?”
”Tidak usah bayar…”
”Baiklah,” petugas satpam itu menghela napas. Kemudian melirik ke kiri dan ke kanan.
”Saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda.”
”Cobalah,”
”Berapa tarif yang anda minta?”
”Setinggi-tingginya.”
”Berapa?”
”Setinggi-tingginya. Saya tidak tahu berapa,”
”Baiklah. Saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini. Tunggu sebentar ya...” petugas satpam itu berlalu dari hadapan si wanita.
Tak berapa lama kemudian, petugas satpam itu datang lagi dengan wajah berseri. ”Saya sudah dapatkan seorang penawar. Dia minta lima juta rupiah. Bagaimana?”
”Tidak adakah yang lebih tinggi?”
”Ini termasuk yang tertinggi,” petugas satpam itu mencoba meyakinkan.
”Saya ingin yang lebih tinggi…”
”Baiklah. Tunggu disini…” petugas satpam itu berlalu.
Tak berapa lama dia datang lagi dengan wajah lebih berseri. ” Saya dapatkan harga yang lebih tinggi. Enam juta rupiah. Bagaimana?”
”Tidak adakah yang lebih tinggi?”
”Nona, ini harga sangat pantas untuk anda. Cobalah bayangkan, bila anda diperkosa oleh pria, anda tidak akan mendapatkan apa apa. Atau andai perawan anda diambil oleh pacar anda, andapun tidak akan mendapatkan apa apa, kecuali janji. Dengan uang enam juta rupiah, anda akan menikmati layanan hotel berbintang untuk semalam dan keesokan paginya anda bisa melupakan semuanya dengan membawa uang banyak. Dan lagi, anda juga telah berbuat baik terhadap saya. Karena saya akan mendapatkan komisi dari transaksi ini dari tamu hotel. Adilkan. Kita sama-sama butuh.”
”Saya ingin tawaran tertinggi…” jawab wanita itu tanpa peduli dengan celoteh si petugas satpam.
Petugas satpam itu terdiam, namun tidak kehilangan semangat. ”Baiklah, saya akan carikan tamu lainnya. Tapi sebaiknya anda ikut saya.
Wanita itu tak peduli dengan saran petugas satpam itu, tapi tetap mengikuti langkah laki-laki itu memasuki lift. Pintu kamar hotel itu terbuka. Dari dalam nampak pria bermata sipit agak berumur tersenyum menatap mereka berdua.
”Ini yang saya maksud, Tuan. Apakah Tuan berminat?” kata petugas satpam dengan sopan.
Pria bermata sipit itu menatap dengan seksama ke sekujur tubuh si wanita, ”Berapa?” tanyanya kemudian.
”Setinggi-tingginya,” jawab wanita itu dengan tegas.
”Berapa harga tertinggi yang sudah ditawar orang?” kata pria itu kepada sang petugas satpam.
”Enam juta rupiah, Tuan.”
”Kalau begitu saya berani dengan harga tujuh juta untuk semalam.”
Wanita itu terdiam. Petugas satpam memandang ke arahnya, berharap ada jawaban bagus darinya. ”Bagaimana?” tanya si petugas satpam.
”Saya ingin lebih tinggi lagi…” kata wanita itu.
Petugas satpam tersenyum kecut.
”Bawa pergi wanita ini.” kata pria bermata sipit kepada petugas satpam sambil menutup pintu kamarnya dengan keras.
”Nona, anda telah membuat saya kesal. Apakah anda benar-benar ingin menjualnya?”
”Tentu!”
”Kalau begitu mengapa anda menolak harga setinggi itu?!”
”Saya minta yang lebih tinggi lagi…”
Petugas satpam menghela napas panjang, seakan menahan emosi. Dia pun tak ingin kesempatan ini hilang. Dicobanya untuk tetap membuat wanita itu merasa nyaman bersamanya. ”Kalau begitu, kamu tunggu di tempat tadi saja ya. Saya akan mencoba mencari penawar yang lainnya.” kata petugas satpam.
Si wanita menurut.
Di lobi hotel, petugas satpam itu berusaha memandang satu per satu pria yang ada. Berusaha mencari langganan yang biasa memesan wanita melaluinya. Sudah sekian lama, tak ada yang nampak dikenalnya. Namun, tak begitu jauh dari hadapannya, ada seorang pria yang sedang berbicara lewat telepon genggamnya.
”Bukankah kemarin saya sudah kasih kamu uang dua puluh lima juta. Apakah itu tidak cukup?” terdengar suara pria itu berbicara. Wajahnya nampak masam seketika.
”Datanglah kemari. Saya tunggu. Saya kangen kamu. Kan sudah seminggu lebih kita nggak ketemu. Ya, Sayang?” tambah si pria.
Kini petugas satpam itu tahu, bahwa pria itu sedang berbicara dengan wanita. Kemudian dilihatnya pria itu menutup teleponnya. Ada kekesalan di wajahnya. Dengan tenang, petugas satpam berkata kepada Pria itu, ”Pak, apakah anda butuh wanita?!”
Pria itu menatap sekilas ke arah petugas satpam dan kemudian memalingkan
wajahnya.
”Lihat wanita yang duduk disana,” petugas satpam menujuk ke arah wanita berjilbab tadi. “Dia masih perawan...” jelasnya, tidak kehilangan akal untuk memanfaatkan peluang ini.
Si Pria mendekati petugas satpam itu. Wajah mereka hanya berjarak setengah meter. ”Benarkah itu?” bisiknya.
”Benar, Pak.” petugas satpam meyakinkan.
”Kalau begitu, kenalkan saya dengan wanita itu…”
”Dengan senang hati. Tapi, Pak… wanita itu minta harga setinggi-tingginya,”
”Saya tidak peduli!” pria itu menjawab dengan tegas.
Petugas satpam segera mengantarnya. Pria itu menyalami hangat si wanita begitu mereka bertemu.
”Bapak ini siap membayar berapapun yang kamu minta. Nah, sekarang seriuslah…” kata petugas satpam dengan nada kesal.
”Mari kita bicara di kamar saja.” kata pria itu sambil menyisipkan uang kepada si petugas satpam. Wanita itu mengikuti pria itu menuju ke kamarnya.
Di dalam kamar …
”Siapa nama kamu?” tanya si pria.
”Itu tidak penting. Sebutkanlah harga yang bisa bapak bayar…” kata wanita itu.
”Sepuluh juta?”
”Lebih tinggi lagi,”
”Baiklah, lima belas juta. Itu penawaran terakhir dariku.”
Si wanita tampak berpikir sejenak, lalu mengangguk. ”Baiklah, saya setuju.”
Tersenyum, pria itu segera mengeluarkan setumpuk dari tasnya dan menaruhnya di meja. ”Ini bayaranmu. Sekarang, aku ingin mengambil hakku.” dia berkata sambil mendekati si wanita dan mulai merangkulnya.
”Shanti.” wanita itu berkata saat si pria mulai mencium bibirnya. ”Namaku Shanti .”
Laki-laki itu menghentikan ciumannya, dia memandangi wajah gadis muda yang ternyata bernama Shan itu dengan takjub. ”Namaku Bramantyo, tapi panggil saja Bram.” sambil berkata, tangannya mulai menggerayangi bagian-bagian tubuh Shanti yang sensitif. Terutama payudaranya yang terlihat menggiurkan dengan bentuknya yang membulat kenyal meski tertutup baju panjang longgar.
Shanti diam saja, dia tidak berusaha untuk menolak sentuhan Bram. Sesuai kesepakatan, dia sudah menggadaikan tubuh sucinya kepada laki-laki itu.
"Shanti, gimana kalau kamu buka dulu celana dalammu? Aku pengen gosok-gosokin punyaku ke punyamu," bujuk Bram dengan tangan sudah meraba-raba selangkangan Shanti.
Shanti tersipu dengan gugup dan ragu-ragu, tapi setelah melihat tumpukan uang yang ada di atas meja, ia pun menurut untuk membuka celana dalamnya seperti yang diminta oleh Bram. "A-aku malu, Pak." terdengar nada kuatir dari mulut manis Shanti.
Bram yang memang cuma sekedar menguji segera menenangkannya. "Tenang saja, aku tahu kalau kamu masih perawan. Tidak langsung kumasukkan kok, cuma sekedar kutempel-tempelkan." jawab Bram sambil juga menurunkan celana dalamnya, memamerkan batangnya yang sudah setengah tegang kepada gadis itu.
Shanti tersipu malu memandangnya. Ia pasrah saja saat tangannya diambil oleh Bram dan dibimbing untuk diletakkan di atas batang kemaluannya. Bram meminta Shanti untuk memainkannya. Pelan Shanti mulai mengocok batang itu meski dengan wajah kikuk. Ia nampak risih sekali karena baru kali ini melihat batang telanjang seorang laki-laki.
Keenakan menikmati kocokan gadis itu, sebelah tangan Bram terjulur untuk meremas-remas susu Shanti yang bulat besar secara bergantian. Ia juga memainkan liang kemaluan Shanti yang kini sudah tidak tertutup celana dalam. Diperlakukan seperti itu membuat Shanti jadi memperlihatkan air muka khawatir, takut Bram akan segera menyetubuhinya dalam waktu dekat. Bram yang mengerti segera berusaha menenangkan gadis itu, kembali ia menyatakan kalau akan melakukan semua ini dengan pelan. Bram tidak ingin membuat Shanti menjadi kesakitan.
”Aku hanya akan menggesek-gesek ujung kemaluanku ke celah vaginamu, itu tidak akan sakit.” kata Bram meyakinkan.
”Lalu kapan Bapak akan melakukannya?” tanya Shanti, tetap terlihat khawatir.
”Kalau kau sudah siap.”
”Kapan itu?”
”Kita akan mengetahuinya sama-sama.”
Kocokan Shanti terasa cukup enak bagi Bram, hingga meskipun penasaran untuk berlanjut lebih jauh, ia akhirnya bisa juga ejakulasi di tangan gadis itu. Air maninya tumpah menyembur-nyembur di wajah cantik Shanti yang masih tertutup jilbab. Meski agak kaget saat awal-awal menerimanya, tapi Shanti tetap berusaha untuk diam. Ia tidak ingin membuat Bram yang sudah membayarnya mahal-mahal, menjadi kecewa.
"Huff, pinter kamu, Shanti...” kata Bram memberi pujian, dengan gemas ia menyusupkan salah satu tangannya ke bukit kemaluan Shanti yang berbulu jarang dan mengusap-usap lembut disana.
Shanti mengangguk malu-malu, tapi dalam hati senang juga karena sudah berhasil membuat Bram melenguh puas. Kini laki-laki itu memintanya untuk menaikkan baju panjangnya hingga ke pinggang, membuat Bram jadi lebih leluasa untuk bermain-main di liang kemaluannya yang terkuak lebih lebar. Diperlakukan seperti itu, Shanti pun jadi tergoda. Secara otomatis tangannya terjulur untuk memegangi kemaluan Bram yang masih melemas dan kembali mengocoknya hingga tak lama, benda itupun menjadi tegang kembali. Saat itulah Shanti segera menghentikan kegiatannya.
"Lho, kenapa nggak diterusin?" tanya Bram heran.
"Nggak ah, nanti Bapak jadi muncrat lagi." jawab Shanti tersipu.
"Emang kenapa? Kamu jijik ya?" Bram kembali memainkan liang kemaluan Shanti dengan tangannya.
"Emm, bukan."
"Lalu apa?"
"Itu...” Shanti menunduk, tak mampu menatap wajah Bram. ”A-apa Bapak... tidak ingin... memakai... milik Shanti?!” tanya Shanti lirih.
Bram tertawa. ”Tentu saja, Manis. Rugi dong aku bayar mahal-mahal kalau tidak bisa merasakan punyamu ini!" seru Bram sambil menekan memek Shanti gemas, yang ditekan jadi semakin malu karenanya.
"L-lakukan, Pak. Saya sudah siap!” kata Shanti lirih dengan muka masih tetap menunduk.
Bram tersenyum penuh pengertian. "Tidak sekarang, aku masih ingin merasakan kocokan tanganmu. Ayo, lakukan lagi!” pintanya sabar.
Tidak membantah, Shanti segera meraih kembali penis Bram dan mulai mengocoknya lembut. Setelah ditumpahi sperma oleh laki-laki itu, Shanti jadi sedikit lebih berani. Rangsangan demi rangsangan yang mereka lakukan membuat birahi keduanya mulai naik tidak terkendali. Bram segera membuka seluruh bajunya, ia telanjang bulat di depan Shanti. Manja ia menaruh kepalanya di dada gadis itu.
"Pak, kena susu saya tuh!" tegur Shanti tanpa nada marah sedikitpun.
"Iya, enak banget, Shanti... susumu empuk." sahut Bram sambil menekan kepalanya lebih keras, merasakan betapa kenyal dan padatnya benda itu. Shanti diam saja.
Merasa diberi jalan, Bram segera mengangkat kepalanya dan menyambar bibir tipis Shanti yang berwarna merah dan langsung melumatnya dengan begitu rakus. "Ehmm... mmmh..." terdengar keluhan nikmat keluar dari mulut Shanti.
"Ah, Bapak nakal... mau nyium nggak bilang-bilang." seru Shanti saat Bram melepas pagutan lidahnya.
Tidak menjawab, Bram cuma tersenyum pada gadis itu. Malah tangannya kini terjulur untuk meremas-remas lagi buah dada Shanti yang bulat padat dari balik kaos merahnya yang terlapisi oleh jilbab putih. ”Berapa ukurannya?” tanya Bram penasaran, merasakan betapa dada Shanti memenuhi seluruh telapak tangannya.
”34C, Pak!” jawab Shanti malu-malu, saat itu Bram mulai menarik bajunya ke atas hingga terlihatlah BH berwarna pink miliknya, ada bordiran berbentuk bunga di cupnya yang sebelah kiri.
”Wuih, putih sekali susumu, Shanti. Montok banget!” seru Bram begitu BH Shanti terlepas. Ia tak berkedip memandangi buah dada Shanti yang tumbuh ke depan, sama sekali tidak kelihatan kendur seperti layaknya wanita yang sering ia tiduri. Tanpa membuang waktu -seperti kucing kehausan yang dikasih susu- langsung saja Bram menjilatinya. Dia pilin-pilin puting Shanti yang mungil kemerahan dengan lidahnya sambil sesekali menghisapnya mesra.
"Sshh... geli, Pak! Ughhh..." Shanti tentu saja mendesah menerimanya. Tubuhnya langsung menggelinjang saat bibir nakal Bram menggelitik bulatan payudaranya yang masih perawan, yang sama sekali belum pernah tersentuh oleh laki-laki. Wajahnya berubah jadi memerah, entah karena malu atau karena nikmat.
Kontol Bram langsung tegang sempurna begitu melihat Shanti mendesah-desah dengan wajah polosnya. Dia segera menyuruh gadis itu agar melepas bajunya, sembari tangannya tak henti-henti meremas buah dada Shanti yang bulat padat. Ketika bajunya sudah terlepas, Bram melongo, air liurnya sampai menetes dari sudut bibir saat memandangi body Shanti yang mulus sempurna, putih sekali, dengan kulit bersih yang halus mengkilat. Di mata Bram, Shanti bagai bidadari surga yang turun ke bumi. Tak tahan lagi, dia pun segera mendorong gadis itu agar rebah di ranjang. Shanti pasrah saja menerimanya, sebagai pengalaman pertamanya, dia masih bersikap pasif. Biarlah Bram saja yang menentukan langkah selanjutnya, Shanti akan mengikuti semuanya.
Pelan-pelan Bram menunduk dan mulai mengecup lembut leher Shanti yang jenjang, diikuti dengan remasan kedua tangannya di masing-masing bulatan payudara gadis itu. Tak lupa juga Bram menggesek-gesek bukit kemaluan Shanti yang merah basah. Diperlakukan seperti itu tentu saja membuat Shanti jadi merintih dan menggelinjang semakin keras.
"Pak, ughh... punya Bapak sudah keras lagi!" katanya mengomentari kontol Bram yang menempel ketat di atas kulit pahanya.
"Iya, sudah waktunya isinya ditumpahkan ke lobang yang ini," jawab Bram singkat sambil menunjuk lubang kelamin Shanti.
Shanti bersemu merah mendengarnya, antara takut melepas keperawanannya yang suci dan keinginan untuk merasakan nikmatnya persetubuhan untuk yang pertama kali.
Bram segera mendekap tubuh Shanti yang montok erat-erat sambil mulai mencumbunya di seputar wajah dan leher. Ciumannya terus turun hingga tiba di bagian dada gadis itu. Segera dikecapnya bukit payudara Shanti yang membulat kenyal kuat-kuat sambil tak lupa menghisap dan menggigiti putingnya berkali-kali. Bram membuka mulutnya lebar-lebar, seakan ingin memasukkan daging menonjol itu ke dalam mulutnya lalu menelannya bulat-bulat. Penuh nafsu ia menjilat dan mencucupi puting Shanti.
Shanti mengerang senang karenanya. "Ssh… ahh… geli, Pak!" ia merengek manja pada laki-laki setengah baya itu, membuat Bram semakin gemas dan bergairah dibuatnya. Air mukanya mulai memerah tanda sudah terangsang berat, sambil tangan dan mulutnya terus mempermainkan tubuh montok si gadis.
“Auw!” Shanti memekik saat Bram mulai menggosok-gosok klitorisnya sambil merosot ke bawah untuk memperhatikan benda itu lebih jelas lagi. "Ihh... Bapak mau apa?" tanya Shanti bingung, dia terlihat sangat malu sekali karena sekarang Bram tengah memelototi lubang vaginanya yang sudah memerah basah. Tangannya segera bergerak mencoba menutup bagian itu, tapi dengan cepat disingkirkan oleh Bram.
"Jangan ditutup, saya pengen lihat lubang kamu." kata Bram beralasan, membuat Shanti jadi tidak enak hati untuk menolak. Bagaimanapun Bram telah membayar mahal untuk tubuhnya.
"P-punyaku jelek kok, Pak!" Shanti mencoba berkilah.
"Tidak, justru memek seperti ini yang dicari orang!” kata Bram meyakinkan, matanya masih tetap menatap nanar ke arah lubang itu sambil dua jarinya mengorek-orek liar disana, berusaha menguaknya sedikit lebih lebar lagi.
"Ah, pelan-pelan, Pak!” Shanti memekik saat merasa kesakitan dengan ulah laki-laki itu.
"Punyamu bikin gemes, Shanti. Belum pernah aku melihat yang seperti ini!” terang Bram.
”Memang istri Bapak dulu tidak perawan?” tanya Shanti lugu.
Bram mengangguk. ”Saya tidak mempermasalahkannya karena saya dulu juga tidak perjaka.”
Shanti terdiam, tak tahu harus bicara apa.
“Karena itulah saya berani membayar mahal untuk merasakan perawanmu. Saya penasaran. Lagian tubuhmu juga tidak terlalu mengecewakan. Kamu cantik, Shanti.” puji Bram tulus.
Shanti kembali bersemu merah.

Gambar terkait

Tidak berkata lagi, Bram tiba-tiba menunduk dan langsung menjilati celah kemaluan Shanti. "Aduh, Pak! Geli! Saya tidak mau gitu!" Shanti tentu saja kaget dibuatnya, ia ingin mencegah tapi kedua tangannya sudah lebih dulu dipegangi oleh Bram. Sesaat dia membelalak, seolah tak percaya ada laki-laki yang mau menjilati kemaluan perempuan. Itukan jijik, pikir Shanti dalam hati. Tapi sebentar kemudian, dia terhempas ke ranjang dengan kepala mendongak dan menggeleng-geleng kesana-kemari. Dadanya yang bulat membusung kencang ketika kelentitnya tersengat geli oleh jilatan Bram yang menggiurkan.
”Oughh... Pak! Ahhh...” Shanti tak sanggup berkata, ternyata rasanya sungguh nikmat sekali! pantas saja Bram melakukannya. Shanti terus merintih dan menggelinjang sampai akhirnya Bram melepaskan jilatannya tak lama kemudian, saat dirasanya vagina Shanti sudah cukup basah dan lengket. Sekarang ganti dia yang minta dioral oleh Shanti.
”Ya, mau kan? Saya mohon!” Bram memelas.
Shanti jadi tidak sampai hati untuk menolaknya. Dia sudah diberi kenikmatan oleh laki-laki itu, jadi tidak adil rasanya kalau dia tidak berbuat hal yang sama. Maka segera diraihnya penis Bram dan dimasukkan ke dalam mulutnya. Shanti mulai mengulum dan menjilatinya meski dengan rasa mual yang amat sangat, ini adalah pengalaman baru baginya, mengoral penis laki-laki untuk yang pertama kali.
Bram yang melihat Shanti tersedak-sedak jadi kasihan, dia segera menyuruh gadis itu untuk berhenti. "Sudah, jangan lama-lama, nanti aku bisa keluar di dalam mulutmu.” kata Bram beralasan.
Dengan lega, Shanti segera memuntahkan penis itu.
”Ayo, kita masukka sekarang!" ajak Bram dengan sabar.
Shanti cepat mengikuti perintah itu, ia segera berbaring telentang dan membuka kedua kakinya lebar-lebar. Dibiarkannya Bram yang mulai menindih tubuhnya, lalu diikuti dengan menyusupnya batang kemaluan laki-laki ke liang memeknya yang masih perawan. Shanti meringis saat penis panjang Bram mulai terendam separoh, seperti ada yang menahannya, dan itu terasa sakit sekali bagi Shanti.
”Tahan, Pak. Sakit!” Shanti merintih, benar-benar tak tahan dengan rasanya.
Bram menahan tubuhnya, mengerti dengan apa yang sedang dialami oleh gadis itu. Pacarnya dulu juga begini saat pertama kali Bram mengambil perawannya. Bersetubuh dengan Shanti membuat Bram jadi teringat masa-masa itu, ia jadi serasa muda lagi. Bedanya, sekarang yang ia setubuhi adalah Shanti yang cantik dan montok, bukan Cindy yang kurus dan cerewet. Tersenyum gembira, Bram pun kembali mendorong penisnya pelan. Ia melakukannya sangat perlahan sekali hingga seperti tidak ada yang bergerak. Tapi meski begitu, tetap saja Shanti dibuat menjerit karenanya.
”Pak, ughhh! Sakit!” rintih gadis muda itu, tangannya mencengkeram bahu Bram kuat-kuat, nyaris mencakarnya.
Tak kehilangan akal, Bram segera menyumbat mulut Shanti dengan ciuman, sambil melumatnya penuh nafsu, ia mendorong kembali pinggulnya. Kali ini tidak pelan, melainkan sangat keras dan cepat. Bram menghentak kuat-kuat hingga dinding lunak yang menghalangi jalannya hancur berkeping-keping. Shanti menjerit pilu, tapi Bram segera menyambar kembali mulutnya dengan ciuman. Tubuh Shanti yang terkejang-kejang juga didekapnya erat-erat, ia tidak ingin usahanya menjadi sia-sia. Bram tidak ingin tautan alat kelamin mereka terlepas akibat rontaan gadis itu.
Setelah satu menit berlalu, dan rintihan Shanti perlahan mereda -yang digantikan oleh isak tangis pelan- perlahan Bram melepaskan pelukannya. Ia kecup mesra bibir Shanti yang merah tipis untuk mengembalikan nafsu gadis itu. Nikmatnya jepitan liang memek Shanti mulai terasa meresap di batang penisnya, Bram merintih dan mulai menggerakkan kemaluannya –tidak digoyang naik-turun, tapi cukup dikedut-kedutkan ke atas dan ke bawah. Begitu saja sudah membuat Shanti menangis semakin keras.

”Ssh... sudahlah, saya jadi tidak tega kalau kamu begini.” kata Bram memprotes.
Shanti segera menghapus air matanya dan berusaha untuk mengatur nafasnya yang memburu. Setelah agak tenang, baru ia tersenyum pada Bram dan berkata. ”Maaf, sungguh sakit sekali!”
”Iya, saya mengerti. Tapi saya mohon, tahanlah sebentar. Semakin cepat ini selesai, semakin cepat rasa sakitmu berlalu.” kata laki-laki itu.
Shanti mengangguk mengerti.
Menahan nafas, Bram mulai memainkan batangnya, ia memompa liang kemaluan Shanti pelan-pelan untuk mencari tempat gesekan yang paling nikmat. "Sssh... Shanti, enak sekali punyamu... sempit banget!" puji Bram tulus.
Shanti tertawa, ”Kalau tidak sempit, buat apa saya tawarkan mahal-mahal sama Bapak.” serunya dengan badan mulai melemas, tampaknya ia sudah mulai bisa menikmati persetubuhan itu.
Bram tersenyum menyadari ketololannya. Tapi memang benar, baru dua-tiga
gesekan saja, ia sudah gemetar karena jepitan memek sempit Shanti. Benda itu benar-benar sangat nikmat. Muka Bram jadi memerah karenanya, apalagi saat bertatapan dengan mata Shanti yang sendu namun terlihat mesra, ia jadi makin tak tahan dibuatnya. Semakin Bram memompa, semakin meluap kenikmatan memek gadis muda itu, ditambah Shanti yang sekarang mulai memainkan pinggulnya, makin lengkaplah ’penderitaan’ yang dialami oleh Bram.
"Aduh, Shanti... pinter banget kamu! Bikin aku jadi kepengen cepat keluar!" Sudah terbata-bata suara Bram, tubuhnya gemetar hebat, sementara batang penisnya berkedut-kedut semakin cepat. Terasa cairan mani sudah terkumpul di ujung batangnya, siap meledak kapan saja. Berusaha untuk bertahan sedikit lebih lama, Bram segera mendekap tubuh bugil Shanti erat-erat dengan sebelah tangan menahan pantatnya, sementara yang satu lagi meremas-remas gundukan payudaranya. Shanti merintih, begitu juga dengan Bram yang kini tidak lagi menggesekkan alat kelaminnya, tapi menekan benda itu dalam-dalam sambil mengajak Shanti berciuman. Si gadis menyambut ajakannya dengan balas mendekap, kedua kakinya naik membelit pinggang Bram erat-erat.
"Shanti, aku keluarin ya?" bisik Bram, meminta ijin untuk menyemprot di dalam.
Sudah siap dengan segala resikonya, Shanti pun menganggukkan kepala. ”Silahkan, Pak. Lakukan semua yang bapak mau.”
"Haghh! Ughhh! Shanti... aduh! Aku... arrghhh!" begitu ijin sudah diperolah, Bram pun mengaduh sambil menyemburkan cairan spermanya berkali-kali di liang sempit Shanti. Jujur, inilah orgasme ternikmat yang pernah dialami oleh Bram selama 40 tahun hidupnya di dunia ini. Begitu puasnya hingga ia tetap memeluk dan menciumi Shanti bertubi-tubi sebagai rasa terima kasih ketika tubuhnya melemas tak lama kemudian.
"Shanti, tubuhmu kok nikmat sekali sih?! Bikin aku puas banget main sama kamu!" puji Bram tulus.
"Tidak rugi kan sama harganya?" Shanti bertanya manja, ada nada bangga dalam suaranya.
"Tidak sama sekali." Bram ikut tersenyum dan kembali melumat bibirnya. Tamat.
            Ini pengalaman pribadi Shinta mulai dari awal sampe segininya hehehe, namanya emang sengaja digituin soalnya salah sebut mulu dia heheheh :*. Komen dibawah ya kalau masih kurang. Terima kasih telah berkunjung di blog ini. Sampai jumpa dan salam sange…


No comments: